www.radarpena.com

Kamis, 17 Januari 2019

Program Perluasan Areal Tanam Baru Tingkatkan Produksi Padi dan Jagung Indonesia

Sabtu, 12 Januari 2019 - 09:52 WIB
Program Perluasan Areal Tanam Baru Tingkatkan Produksi Padi dan Jagung Indonesia
Foto: Alidrian Fahwi/RADARPENA

RADARPENA.CO - Kementerian Pertanian menggelar acara Bincang Asyik Pertanian Indonesia (Bakpia) pada Jumat (11/1) pagi. Acara yang bertempat di Gedung Pusat Informasi Agribisnis Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan tersebut membahas tentang program dan kebijakan tanaman pangan untuk peningkatan kesejahteraan petani. Hadir sebagai pembicara Direktur Jenderal Tanaman Pangan Sumarjo Gatot Irianto dan Pengamat Pertanian Siswono Yudo Husodo.

Dalam pemaparannya, Gatot menyatakan bahwa berdasarkan data secara nasional sepanjang 2018, Kementerian Pertanian (Kementan) berhasil mencapai target peningkatan produksi padi dan jagung yang dicanangkan pemerintah. "Produksi padi tahun 2018 mencapai 83,04 juta ton gabah kering giling (GKG) atau setara dengan 48,3 juta ton beras. Angka ini tercatat masih surplus dibandingkan dengan angka konsumsi sebesar 30,4 juta ton beras, " ungkap Gatot. 

Pada periode yang sama, produksi jagung mencapai 30,05 juta ton pipilan kering (PK). Jumlah ini masih surplus sekitar 14 juta ton dibandingkan jumla kebutuhan yang hanya sekitar 15,58 juta ton PK. "Secara nasional selama setahun di 2018 bisa disimpulkan bahwa surplus padi dan jagung sudah bisa kita capai," lanjutnya. 

"Namun, tentu jika diturunkan datanya spesifik per daerah dan periode tertentu ada yang kekurangan, tapi bisa ditutupi dari daerah lain yang punya kelebihan produksi. Hal ini akan sangat terekait dengan masalah distribusi," imbuhnya.

Keberhasilan tersebut menurut Gatot adalah hasil dari pelaksanaan Upaya Khusus Padi Jagung dan Kedelai (Upsus PJK) sejak 2015. Sejak dilaksanakannya, Upsus PJK mampu meningkatkan luas tanam padi secara tajam sebesar 2 juta hektare, dari 14 juta hektar pada 2014 menjadi 16 juta ha pada 2018. "Dengan perbaikan prasarana dan sarana, penanganan pasca panen dan pengamanan produksi, produksi 2019 diproyeksikan akan meningkat lebih tinggi lagi di banding 2018," terang Gatot.

Potensi tambahan produksi 2019 berpeluang besar diantaranya melalui pengembangan padi di lahan rawa pasang surut, rawa lebak, pemanfaatan lahan kering untuk padi, jagung, kedelai, pengembangan budidaya tumpang sari, perbaikan teknologi benih, pupuk, budidaya, dan penanganan pasca panen, dan pengamanan produksi dari gangguan organisme penganggu tanaman. 

Perluasan areal tanam program SERASI (Selamatkan Rawa, Sejahterakan Petani) misalnya, ditargetkan bisa memperluas lahan rawa pasang surut dan lebak tahun sebesar 500.000 hektare terutama di Provinsi Kalimantan Selatan dan Sumatera Selatan. Diharapkan adanya program SERASI di rawa dapat meningkatkan indeks pertanaman dan mengembangkan korporasi petani. "Dengan adanya program ini kita upayakan pertanaman di lahan rawa menjadi dua kali dalam setahun dari sebelumnya yang hanya satu kali," ujarnya.

Selain di rawa, perluasan areal tanam juga dilakukan melalui pengembangan padi di lahan kering dengan diantaranya dengan budidaya tumpangsari. Tumpangsari sebagai solusi untuk mengatasi persaingan lahan antar komoditas. Pada 2019, program tersebut ditargetkan perluasan areal tanam mencapai 1,05 juta hektare atau setara luas pertanaman 2,1 juta hektare. Dari sisi pendapatan pun, budidaya tumpangsari bisa memperoleh keuntungan lebih besar daripada budidaya monokultur.

Pengamat Pertanian Siswono Yudo Husodo yang juga hadir sebagai pembicara mengapresiasi capaian Kementan dalam meningkatkan produksi dan menjaga inflasi pangan. Senada dengan Gatot, Mantan Ketua Himpunan Kerukunan Tani (HKTI) itu juga mengakui bahwa perluasan areal tanam merupakan faktor utama untuk terus menjaga produksi tanaman pangan agar bisa mencukupi kebutuhan penduduk yang pasti terus bertambah.

"Ekspor beras di atas tiga ribu ton merupakan prestasi besar dalam kebijakan pemerintah. Kedepan, luasan lahan milik petani masih perlu ditingkatkan dengan upaya strategis," ujar Siswono. 

Menurutnya, upaya program perluasan areal tanam baru seperti lahan rawa dan lahan kering merupakan terobosan yang sangat baik, dan perlu disambut oleh gubernur dan bupati. Ia mengambil Kabupaten Dompu sebagai contoh. Komitmen bupatinya bisa menjadikan kabupaten yang miskin menjadi sejahtera karena masyarakat bisa bertumpu pada perluasan tanam jagung, bahkan pertanamannya sampai masuk ke hutan.

Disamping perluasan areal tanam, upaya yang dilakukan Ditjen Tanaman Pangan adalah melalui peningkatan produktivitas, yaitu dengan peningkatan penggunaaan benih varietas unggul dengan potensi produksi yang tinggi, pengembangan padi hibrida, anjuran penggunaan pupuk berimbang, pengamanan pertanaman melalui pengawalan pengendalian organisme pengganggu tanaman serta menekan kehilangan hasil melalui penanganan pascapanen yang baik. (rian)

Redaktur : --
Reporter : --
Sumber :

Komentar

Terpopuler


Close Ads X